Konstruksi Kurikulum Berbasis Isu Strategis di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri

Penulis: Dr. Pahri Siregar, M.Pd.I., Hazrina Syahira Putri, M.I.Kom., Nisa Afifah, M.Sos., M. Fauzan B., M.Sos., Abdul Manan Nasution, M.Sos
Penerbit: Bypass
Ukuran: 15 x 23 cm
Kertas isi: Bookpaper 70 gram
Halaman: 122 halaman
Kertas Sampul: AC 260 gr, Soft Cover
Terbit: Desember 2025
harga: IDR 105.000

Sinopsis
Konstruksi kurikulum pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri menunjukkan komitmen kuat dalam menghadirkan pendidikan Islam yang holistik, transformatif, dan berkarakter. Kurikulum ini tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai penting yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Ada 4 isu penting dalam konstruksi kurikulum, yaitu Isu Teoantropoe-Kosentris Kurikulum, Anti-Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), Moderasi Beragama, dan Gender. Isu Teoantropoe-Kosentris Kurikulum mencerminkan perpaduan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kepedulian lingkungan. Setiap mata kuliah dirancang untuk membentuk karakter mahasiswa yang memiliki kesadaran spiritual, etis, dan ekologis sehingga menjadi lulusan berakhlak rahmatan lil ‘alamin.

Isu Anti-Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) Nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial diinternalisasikan melalui berbagai mata kuliah. Kurikulum ini bertujuan membentuk mahasiswa yang profesional, beretika, serta memiliki kesadaran kritis untuk menolak praktik koruptif dan menjadi agen perubahan yang menjunjung keadilan. Isu Moderasi Beragama Kurikulum mendukung terbentuknya sikap moderat, toleran, dan inklusif pada mahasiswa. Melalui berbagai mata kuliah dakwah dan komunikasi, mahasiswa dibekali kemampuan untuk menyikapi keberagaman secara bijak dan menjadi jembatan harmoni di tengah pluralitas sosial-keagamaan. Sementara Isu Gender Perspektif kesetaraan dan keadilan gender diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Kurikulum membekali mahasiswa untuk memahami isu ketimpangan gender serta mendorong terciptanya relasi sosial yang adil, setara, dan bebas diskriminasi. Hal ini sejalan dengan nilai keadilan Islam dan paradigma teoantropoekosentris.

Facebook
Twitter
WhatsApp