Dari Meja Redaksi

Industri penerbitan buku pada saat sekarang ini menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat. Kehadiran internet menjadikan segala informasi menjadi lebih muda diakses dan semakin dekat dengan pembaca. Efeknya, penjualan buku cetak terus menurun. Berdasarkan data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), tahun 2015 total omzet industri penerbitan menurun 6,71% dari periode yang sama. Lalu, dua tahun berikutnya, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Rosidayati Rozalina, menyatakan bahwa secara umum pendapatan (revenue) penerbitan mulai turun maksimal 10%.
Tantangan lain dari industri penerbitan buku adalah maraknya media sosial yang mengikis minat baca. Pembaca semakin terbuai dengan berbagai informasi singkat dari berbagai media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, dan Tik-tok. Alhasil, pembaca mulai enggan membaca informasi dari sebuah buku yang terkesan panjang.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, penerbit harus bisa bermetamorfosa di dalam bisnisnya. Perlahan, pembaca sudah beralih dari membaca buku melalui media cetak menjadi membaca buku melalui media online. Penerbit tidak lagi bia mengharapkan pendapat utama dari buku cetak. Buku eletronik (e-book) adalah salah satu solusi yang bisa dikembangkan oleh industri penerbitan buku.

Namun demikian, buku cetak juga masih memiliki peluang, terutama di beberapa bidang terbitan buku pelajaran, novel, resep masakan, dan buku anak. Bidang terbitan ini menjadi penyelamat di industri penerbitan buku.

Penurunan produksi berefek pada jumlah judul yang diterbitkan menurun, di samping juga oplag cetaknya. Agar penerbitan buku tetap bisa bertahan, salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan menurunkan oplah cetak, bahkan terkadang buku hanya dicetak sesuai dengan jumlah pesanan calon pembaca (print on demand).

Selain di bidang produksi, industri penerbitan buku juga menghadapi tantangan di dalam distribusi buku cetak. Setahun terakhir ini, Indonesia dan dunia dilanda wabah covid-19 yang berefek pada terkontraksinya kegiatan ekonomi. Beberapa pusat perbelanjaan tutup, termasuk toko buku. Pameran-pameran buku juga bernasib sama.

Jaringan distribusi mulai beralih pada jaringan distribusi toko buku online yang memasarkan bukunya melalui market place dan pemasaran online lainnya. Memang pembaca mulai dimanjakan dengan belanja melalui toko online. Maraknya jasa ekspedisi membuat tarif ongkos kirim semakin bersaing.

Untuk menjawab tantangan di industri penerbitan buku tersebut, Penerbit Bypass yang tahun ini berusia 10 tahun tetap setia menyapa pembacanya melalui buku-buku terbitan Bypass. Semoga kehadiran buku-buku terbitan Bypass menjadi teman dalam setiap perjalanan pembaca.

Bogor, Januari 2022

Surip Prayugo, MM
Direktur